Masing-masing Terluka
Senja itu Kulub sedang mandi di sungai piko, sambil mandi dia bermain kejar-kejaran dengan Depis, Iyop, Hengki, Toni, Alex dan beberapa anak-anak kampung lainnya, timbul tenggelam kepala mereka di sungai piko yang jernih, sesekali perahu penjaring ikan melintas menuju hilir sungai, ungko-ungko, siamang, cigak, beruk, kera jambul putih dan bermacam jenis primata lainnya, hiruk-pikuk berebutan dahan yang akan dijadikan tempat tidur mereka malam itu, perintah selesai mandi hanya berasal dari suara azan Magrib, selain dari itu tidak.
Azan Magrib menggema dari corong surau di pinggir sungai, Kulub dan kawan-kawannya bergegas naik ke darat, berlari menuju rumah masing-masing, malam mulai memasuki pintunya, lampu-lampu minyak mulai menyala menerangi sebatas yang sanggup dia terangi, listrik PLN sudah ada, tetapi hanya orang tertentu yang sanggup membayarnya perbulan, keluarga Kulub termasuk dalam mereka yang tidak sanggup membayar penerangan perbulan, malam mulai berlayar, setelah azan Magrib tidak lama kemudian bersambung ke azan Isya, selesai Isya berlakulah rutinitas wajib.
Inilah rutinitas wajibnya, beberapa warga berduyun-duyun menuju rumah seorang pegawai pemerintah desa, yang paling dominan diantara mereka adalah perempuan, para ibu rumah tangga, anak-anak gadis, orang tua, nenek-nenek dan beberapa diantaranya juga ada kakek-kakek, khusus yang kakek-kakek ini diantara mereka juga ada yang membawa segelas kopi ditangan mereka, rokok dari daun nipah melekat erat di bibirnya, asapnya membuat batuk anak-anak. Mereka mendatangi rumah Pak cik Iyud untuk menonton televisi, sebab kala itu hanya dirumah itulah satu-satunya televisi ada.
Kulub juga sering ikut menonton di rumah Pak cik yud, meskipun sebagian besar yang dia tonton itu tidak sepenuhnya dia mengerti, tetapi interaksi sosial setiap malam seperti itu memenuhi relung jiwanya, menjadi kenangan indah sekaligus mengharukan dalam hidupnya, malam masih berlayar dengan tenang, tidak ada suara knalpot sepeda motor anak-anak racing, hanya sesekali terdengan suara truk yang sedang berjuang mendaki jalanan berbukit di kampung Kulub, pagi datang terasa sangat lama, dan diantara tanda datangnya pagi adalah berbaurnya suara aneka burung dan primata, halimun tipis memayungi pucuk-pucuk Havea Brasiliensis
Kampung Kulub berada di dalam hutan karet, di pagi hari masyarakat berpencar ke kebun masing-masing, sementara itu anak-anak sepantaran Kulub juga sedang sibuk membantu bapak mereka menderes karet, perkebunan karet yang lebat dan syahdu menjadi sarang berbagai jenis primata endemik sumatera, diantara anak-anak itu ada yang ikut menderes karet, mengumpulkan getah karet, dan menuangkan obat pengeras kedalam tempurung karet yang sedang menetes.
Lain halnya dengan Kulub, nasibnya agak berbeda dengan kawan sepantarannya, dia punya bapak, tetapi bapaknya tidak pernah mengajarinya cara menderes karet, hal itu mungkin juga disebabkan karena keluarga Kulub tidak punya kebun karet, dan bapaknya juga tidak mau menjadi buruh penderes karet.
Ketika para bapak berjuang melanjutkan hidup di pedalaman perkebunan karet, dan melanjutkan keterampilan bertahan hidup kepada generasi penerusnya, bapak Kulub sibuk dengan "lukanya" sendiri, pergi melalang buana tidak tahu kemana rimbanya, meninggalkan Kulub yang lemah bersama neneknya tercinta, sementara itu mamak Kulub juga tak kalah sibuknya dengan "lukanya" yang lain.
Siang itu Kulub terlibat perkelahian dengan Iceng, mainan senjata dari bambu yang dibuatkan nenek untuk Kulub di rebut Iceng, meskipun bertubuh kecil Kulub punya nyali sangat besar, dia tidak berhenti memukul Iceng yang badannya lebih besar dari dia, sambil menangis Kulub terus melancarkan pukulannya, Iceng yang gesit tertawa berlari kesana kemari mengejek Kulub yang sedang ngamuk, pada akhirnya Iceng lari masuk kedalam rumahnya, dan Kulub menangis pulang kerumah dengan penuh kemarahan, dirumahnya Nenek Kulub memeluk dan menghapus air matanya, sambil berbisik, "Nanti nenek yang akan pergi meminta bedil bambu mu", "Tenanglah".
Sore harinya nenek Kulub pulang sambil membawa bedil bambu yang dirampas Iceng, Kulub yang malang tidak punya siapapun selain neneknya ketika dia mengalami persoalan sosial dengan anak-anak sepantarannya, hari itu dia berkelahi karena dirampas mainannya oleh anak lain, di hari yang lain dia menangis karena diejek "tidak punya bapak", Kulub dirundung banyak kemalangan sedari dia mengerti bahwa bapaknya tidak menginginkannya.
Meskipun Kulub merasa tidak punya bapak, tapi dia punya seekor anjing bernama Coffi, tetapi Coffi bukan jenis anjing yang bisa diajak bermain ke sungai atau ke kebun karet, dia galak dan sangat protektif, Kulub pernah membawanya ke sungai ditemani nenek, tetapi tubuh kecil Kulub diseret Coffi ketika dia nerusaha mengejar sekelompok anak-anak monyet, dan Coofi hanya ramah kepada beberapa orang saja.
Catatan ini adalah kisah pembuka tentang Kulub yang tinggal di pedalaman hutan karet, yang punya orang tua tetapi dia tidak memilikinya, dia menjadi "Korban" untuk sesuatu yang tidak dia lakukan dan yang tidak dia mengerti pada waktu itu, dan dia menyadari sepenuhnya masa lalunya.
Memuat ringkasan...
